best website stats Lagi Hits, Wisata Taman Bunga Refugia di Trawas Mojokerto Digandrungi Kaum Milenial - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Lagi Hits, Wisata Taman Bunga Refugia di Trawas Mojokerto Digandrungi Kaum Milenial

majamojokerto.com

Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto dikenal dengan keanekaragaman destinasi wisata alam yang eksotis. Terlebih, destinasi wisata alam di kaki gunung Penanggungan. Salah satu wisata yang kini tengah hits digandrungi kaum milenial di Kabupaten Mojokerto yakni Taman Bunga Refugia atau lebih dikenal sebagai tanaman Keniker di kaki Gunung Penanggungan.

Berlokasi di Dusun/Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, lahan pertanian milik warga yang sebelumnya ditanami berbagai macam jenis tanaman petani, kini berubah menjadi taman. Bunga kenikir yang ditanam oleh petani ini bahkan menyugukan panorama yang cukup indah. Tidak kalah dengan area lokasi wisata lainnya.

Kini, destinasi wisata di tengah hamparan sawah dengan dipenuhi tanaman bunga Keniker menjadi buruan wisatawan. Terutama para pemburu lokasi objek spot foto instagramable di Jawa Timur sejak enam bulan terakhir, dan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, destinasi wisata Taman Bunga Refugia ini berada diantara dua pegunungan. Yakni Gunung Penanggungan dan Welirang yang menambah kecantikan background hasil foto yang bagus untuk bisa di posting di media sosial. Kondisi itu menjadi magnet bagi sejumlah wisatawan, baik lokal ataupun luar kota.

Vina (26), salah satu warga asal Surabaya mengatakan, pihaknya mengetahui lokasi wisata Taman Bunga Refugia dari media sosial. Bahkan sudah kedua kalinya datang ke lokasi tersebut dan hanya untuk menghirup udara segar, jalan-jalan menyusuri pematang sawah, menghayati pemandangan indah, menikmati makan dan minuman organik, hingga menyaksikan berbagai contoh budidaya organik di lahan terbuka.

“Suasana pedesaannya dapat banget di sini, penat soalnya di Surabaya. Jadi libur kerja lebih milih ke sini, pemandangannya indah, belum lagi udara sejuk dan angin semilir yang gak dimiliki Surabaya,” ungkapnya, Sabtu (03/10/2020).

Sementara itu, Slamet, Pengelola Kuwah Organik sekaligus Direktur Brenjonk mengatakan, konsep taman bunga Refugia yang berada di ketinggian 800 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL) di tengah hamparan sawah berawal dari 40 petani yang tergabung dalam Kuliner Sawah Organik atau di kenal “Kuwah Organik” untuk menciptakan ketahanan ekonomi di dusun tersebut.

Dimana masing-masing para petani bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk membuat petak untuk kuliner organik. Seperti, beras organik, sayur organik, hingga proses juga secara organik. ”Awalnya kami berharap semua pengunjung yang datang bisa menikmati sajian yang sehat dan organik,” ujarnya.

Dari sinilah baru dilakukan pengembangan wisata untuk membangun daya tarik tersebut semakin diminati masyarakat yakni dengan membuat Taman Bunga Refugia.

Selain sebagai destinasi wisata, Taman Bunga Refugia ini juga berfungsi sebagai tanaman yang dikenal dengan sebutan mampu mengendalikan hama padi, kemudian bisa dijadikan sayur seperti urap-urap, hingga difungsikan untuk swa foto, baik itu foto selfie hingga prawedding.

Selain tiga fungsi yang ditonjolkan tersebut, pihaknya juga menyediakan program wisata edukasi. Dimana pengunjung diajak berjalan-jalan di luas lahan 5 hektare tersebut. Selain itu pengunjung dijelaskan bagaimana proses system ketahanan organik. Seperti, membuat kompos, mikroba, pembibitan, perawatan, panen, hingga distribusi tanaman organik.

“Jadi petani tidak menjual tanahnya, tapi menjual hasil olahannya. Apalagi kalau weekend pengunjung mencapai 200 orang. Ketahanan ekonomi pun terjadi, apalagi wisatawan banyak juga yang dari luar Mojokerto seperti Halmahera, Timor-timor, mahasiswa asing dari Jerman, Turki yang kuliah di Indonesia,” paparnya.

Untuk bisa ke sana, setiap pengunjung wisata hanya butuh menyiapakan uang Rp 5 ribu saja untuk sekali masuk. Pembayarannya dilakukan dengan cara memasukkan ke kotak, layaknya kotak amal yang memang sudah disiapkan di pintu masuk dan uang parkir. (fad/mjf)