best website stats Stok Logistik Dapur Umum di Lokasi Banjir di Mojokerto Menipis - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Stok Logistik Dapur Umum di Lokasi Banjir di Mojokerto Menipis

majamojokerto.com

Stok logistik di Dapur Umum (DU) yang didirikan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto ternyata menipis. Padahal hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak banjir dikawasan Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Zainudin, Koordinator Logistik Tagana Kabupaten Mojokerto mengatakan, pihaknya hanya memasak dua kali dalam sehari. Yaitu dinihari agar nasi bungkus bisa dikirim ke para korban banjir sekitar pukul 07.00 - 08.00 WIB dan masak siang untuk dikirim sore.

Sekali masak, pihaknya menyiapkan 1.500 bungkus nasi. Berisi nasi putih, telur dadar, serta sambal goreng tempe dan tahu.

Untuk membuat ribuan nasi bungkus, juga dibutuhkan 130 Kg beras. Namun siang ini (05/02/2020), beras yang tersisa di dapur umum hanya 50 Kg.

"Ketersediaan beras menipis. Hanya 50 kilogram, itu kurang kalau untuk masak malam nanti supaya bisa dikirim besok pagi nasi bungkusnya," ungkapnya kepada Fuad Amanulloh, Reporter Maja FM, Rabu (5/2/2020).

Menipisnya persediaan beras tersebut, Tagana sudah melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Mojokerto untuk segera mendapatkan penanganan.

Setiap hari DU menyiapkan 1.500 nasi bungkus untuk satu kali masak. Sehingga untuk satu hari, DU menyiapkan 3 ribu nasi bungkus yang dibagikan kepada warga terdampak banjir di Desa Tempuran pagi dan sore hari, beserta relawan yang bersiaga dilokasi banjir.

Selain itu, penanganan kesehatan para korban banjir di Desa Tempuran juga belum maksimal. Padahal terdapat dua posko kesehatan yang dibuat. Yaitu di Dusun Tempuran dan Bekucuk.

Seperti yang dikeluhkan keluarga Nuriyanto (64), warga Dusun Tempuran. Menurut dia, istrinya menderita gatal-gatal di bagian kaki, karena terkena air banjir. Hingga siang tadi, istrinya belum mendapatkan bantuan pengobatan.

"Istri sakit gatal di kakinya. Belum dapat obat. Belum tanya soal posko kesehatan, juga tidak ada yang memberi tahu kalau ada posko kesehatan," ungkapnya.

Selain itu warga juga menilai, pemerintah lamban menanggulangi banjir di Desa Tempuran. Padahal banjir di kampung ini juga terjadi tahun lalu. (fad/and)