best website stats Begini Nasib Kampung Bahasa di Mojokerto Saat Ini - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Begini Nasib Kampung Bahasa di Mojokerto Saat Ini

majamojokerto.com

Kampung bahasa di Kota Mojokerto yang berlokasi di kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, saat ini hanya tinggal nama.

Sebab, sejak 2015 diklaim menjadi sentra kampung bahasa, tapi kini aktivitas belajar mengajar dan percakapan dalam Bahasa Inggris di kampung itu nyaris tidak ditemukan.

Nama kampung bahasa mengerucut pada Bahasa Inggris. Bahkan papan penunjuk jalan Kawasan Kampung Bahasa atau Language Village Area bertebaran di kelurahan ini.

Sunaryo, Humas Kampung Bahasa mengatakan, puncak kejayaan kampung bahasa kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon pada 2017 lalu. Bahkan sampai ada 12 lebih LBB yang menampung 30-40 anak dalam kursus bahasa.

"Hanya berjalan sekitar 6-7 bulan. Tahun 2018 berhenti karena tidak ada anggaran dari Pemkot Mojokerto untuk menggaji tutor, menyewa tempat dan membeli peralatan mengajar," katanya kepada Fuad Amanulloh, Reporter Maja FM, Rabu (9/10/2019).

Dia mengatakan, pembentukan Pulorejo sebagai kampung bahasa sejatinya ingin meniru Kampung Inggris di Pare, Kediri. Setiap orang di kampung ini diharapkan mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Namun, cita-cita itu sampai saat ini jauh dari harapan. Kampung Bahasa di Pulorejo justru tinggal nama.

"Posisi sekarang kampung bahasa di Pulorejo belum dibubarkan, tapi tidak aktif. Harapan kami kampung bahasa bisa berjalan lagi," harapnya.

Namun kata Sunaryo, saat ini masih terdapat beberapa LBB yang masih bertahan secara mandiri.

"Sekarang yang tersisa 7-8 LBB saja. Semuanya berjalan secara mandiri tanpa bantuan anggaran dari pemerintah," terang Elis Indahyani (38) salah satu pemilik LBB.

Untuk bisa bertahan, kata Elis, pihaknya terpaksa menarik iuran dari para peserta didik. Setiap orang diminta membayar Rp 75 ribu per bulan. Uang itu digunakan untuk membeli peralatan mengajar dan menggaji tutor.

Sementara itu, Sri Widarti (47), Ketua Paguyuban Pulo Bahasa menjelaskan, momen paling bergeliat di kampung bahasa Pulorejo terjadi pada 2016-2017. Karena saat itu masyarakat, Pemkot Mojokerto dan pemilik LBB bersatu. Peran pemerintah saat itu salah satunya dengan membuat even-even gebyar bahasa.

Namun kini hanya 8 LBB yang masih bertahan secara mandiri. Total peserta didik mereka tak lebih dari 60 orang. Mulai dari siswa SD hingga anak kuliahan.

Menurut Sri Widayati, di tengah kerja keras warga berusaha mempertahankan LBB, Pemkot Mojokerto memindahkan kampung bahasa ke Kelurahan/Kecamatan Kranggan.

"Ada peralihan gebyar bahasa ke Kranggan. Kami tidak dilibatkan, kenapa perjuangan kami tidak dihargai? Namun kami tetap mengondisikan sebagai kampung bahasa disini meski dihapus oleh pemerintah," tegasnya.

Meski saat ini kampung bahasa Pulorejo mati suri, warga masih berharap aktivitas pendidikan Bahasa Inggris kembali digairahkan. (fad/and)