best website stats Mantap, di Mojokerto Ada Nasi Bumbung Dari Wisata Akar Seribu - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Mantap, di Mojokerto Ada Nasi Bumbung Dari Wisata Akar Seribu

majamojokerto.com

Setiap daerah selalu memiliki makanan khas daerah masing masing, tak terkecuali Kabupaten Mojokerto. Selain sambelan wader di daerah wisata Trowulan, di Desa Begagan Limo, Kecamatan Gondang juga tidak mau kalah.

Disana memiliki makanan khas nasi bumbung. Makanan ini merupakan warisan leluhur mereka saat warga desa pergi ke hutan tanpa membawa bekal makanan. Warga sekitar yang memiliki kebiasaan mencari nafkah ke hutan biasanya makan nasi bumbung. Dengan hanya berbekal beras dan ikan asin atau klotok, warga sudah bisa menikmati makanan khas turun temurun dari leluhurnya.

Informasi yang dihimpun Fuad Amanulloh, Reporter Maja FM, cara memasaknya tergolong masih tradisional. Selain tanpa mengunakan kompor gas dan alat dapur lainnya, warga hanya memanfaatkan bambu yang banyak ditemukan di sekitar hutan lereng Gunung Anjasmoro.

Setelah bahan-bahan sudah disiapkan mulai beras, ikan, bumbu untuk sambal, dan kayu untuk membakar, caranya juga cukup mudah. Dimulai dari membersihkan beras, kemudian dimasukan ke dalam bumbung. Bambu yang diambil cukup satu ruas atau suku (dalam bahasa Jawa disebut ros), tujuannya agar beras tidak tumpah. Bambu itu dibersihkan terlebih dulu dan dilubangi.

Hal itu bertujuan untuk memasukkan beras yang sudah dibersihkan. Kemudian dimasukkan bumbung dan diberi air secukupnya serta garam, agar nasi yang dihasilkan lebih nikmat.

Setelah beras dimasukkan, bumbung isi beras dibakar menggunakan kayu yang ada di hutan. Warga tak perlu membawa korek api karena saat mereka di hutan bisa menggunakan kayu kering untuk menghasilkan percikan api.

Untuk mengetahui nasi sudah masak akan terlihat dari lubang bumbung, nasi dipinggir bumbung akan terlihat seperti intip atau kerak nasi. Tapi tidak sampai kering, karena akan membuat nasi justru tidak bisa dimakan.

Sementara lauknya, warga sering membawa ikan asin atau klotok. Nasi bumbung akan terasa nikmat dengan sambel gejrot, yakni dengan bahan kemiri, bawang merah, bawang putih, kremosan (karena sulit diganti asam) serta cabai.

Tempat untuk menumbuk sambal, warga juga memanfaatkan bambu. Sehingga nasi bumbung dimasukan tanpa menggunakan peralatan masak. Untuk sayurnya, warga mengambil rotan muda yang kemudian dicampur di bumbu yang sudah ditumbuk.

Bersama sambel gejrot, rotan muda itu juga ditumbuk. Untuk rasanya memang sedikit pahit, tapi karena ada sambalnya ada kenikmatan tersendiri.

Baca juga : Asyiknya, Wisata Water Tubing di Lebak Jabung Mojokerto

Selain itu, dengan memanfaatkan rempah-rempah, warga Desa Begagan Limo, Kecamatan Gondang juga mengolahnya menjadi minuman secang. Minuman secang itu terbuat dari olahan beberapa rempah rempah, diantaranya Kayu secang, sere, pala, kayu manis, cengkeh dan gula batu. Semua bahan dimasukan dan dimasak dengan api kecil sampai harum.

Untuk melestarikan olahan khas turun temurun dari para leluhur, warga kini berinisiatif untuk mengembangkannya. Bagi masyarakat luas atau wisatawan yang ingin menikmati makanan khas dan minuman hasil alam, kini bisa dinikmati saat berkunjung ke wisata Akar Seribu di Desa Bagagan Limo.

Kardi (61), salah satu warga mengatakan, makanan khas berupa nasi bumbung dan juga minuman secang, merupakan warisan nenek moyang warga Begagan Limo saat pergi ke hutan. " Warga sini memang dulunya sering memanfaatkan kekayaan alam saat pergi ke hutan, dan hingga kini masakan ini masih lestari," jelasnya.

Menurutnya, nama nasi bumbung di ambil karena masaknya pakai bambu. Bambu yang digunakan untuk memasak itu jenis Petung yang tidak terlalu muda. " Memasaknya dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Ini khas Desa Bagagan Limo," ungkapnya.

Sementara itu, Achmad Mambo - pendamping wisata mengatakan, nasi bumbung saat ini tidak dijual secara umum. Namun rencananya akan ditawarkan dalam paket wisata Akar Seribu. " Rencana akan masuk dalam paket wisata," ujarnya.

Karena saat ini wisata Akar Seribu sudah mulai dikenal masyarakat luas, sehingga jumlah pengunjung cukup banyak. Rata-rata 500 sampai 700 pengunjung di hari Sabtu dan Minggu serta hari libur. Dengan tiket masuk hanya Rp 5 ribu dan parkir sepeda motor Rp 5 ribu.

"Sejak diperkenalkan dua tahun lalu, jumlah pengunjung cukup banyak. Namun kita masih ada kendala karena pengelola wisata, lembaga desa maupun pokdarwis belum terbentuk. Sehingga tata kelola pariwisata masih bekerja sama dengan LMDH dan Perhutani," jelasnya.

Wisata Akar Seribu merupakan wisata alam di Desa Bagagan Limo. Dinamakan akar seribu karena pohon koang atau pohon tali rogo yang sudah berumur ratusan tahun tersebut memiliki banyak akar. Di sisi kanan ada sungai kecil dengan banyak baru serta air jernih yang mengalir dari kaki Gunung Anjasmoro.

Desa Begaganlimo merupakan sebuah desa yang berada paling selatan di Kecamatan Gondang dengan mayoritas penduduknya bertani dan pedagang. Desa Begaganlimo terdiri dari dua dusun dengan jumlah penduduk sekitar 158 kepala keluarga (kk) dan 652 jiwa dengan luas wilayah 130 hektar. (fad/and)