best website stats Musim Kemarau, Lahan Tanaman Cabai di Dawarblandong - Mojokerto Mengering, Ini Kata Petani     - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Musim Kemarau, Lahan Tanaman Cabai di Dawarblandong - Mojokerto Mengering, Ini Kata Petani    

majamojokerto.com

 Musim kemarau ini membuat hektaran lahan petani cabai di Kecamatan, Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mengalami gagal panen. Para petani memilih membiarkan tanaman cabai mengering di pohonnya karena sudah tak layak jual.

Meski saat ini harga jual cabai di pasar tradisional mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Hal itu tidak bisa dirasakan petani cabai di Dusun Berjel Kedol, Desa Pocok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto yang selama ini menjadi pemasok cabai.

Dari pantauan Fuad Amanulloh, Reporter Maja FM, hektaran ladang cabai di Kecamatan Dawarblandong yang ditanami cabai nampak mengering, karena cuaca yang panas dan kekurangan air. Sehingga para petani banyak yang membiarkan cabai mengering di pohonnya.

" Musim kemarau terhitung sejak bulan ke empat yang lalu, para petani cabai disini sudah mulai kelabakan," ungkap Sugeng (63) salah satu petani cabai di Dusun Berjel Kedol, Desa Pocok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Dia mengatakan, musim kemarau mengakibatkan para petani di Kecamatan Dawarblandong merata tak ada lagi petani yang diuntungkan oleh tanaman cabai. " Terakhir panen ya setengah bulan yang lalu, tapi itu sisa-sisa. Alhamdulillah kemarin saya masih sempat menjual dengan harga per kilo Rp 30 ribu," terangnya.

Menurutnya, saat ini petani cabai di Kecamatan Dawarblandong memilih menanam tanaman lain, seperti kangkung dan lainnya. Hal itu karena tanaman cabai sudah tak lagi produktif di musim kemarau.

" Sebelumnya kemarau ladang seluas kurang lebih 300 meter mampu menghasilkan puluhan kilo cabai, namun sekarang sudah tak laku sama sekali. Mangkanya saya cabuti pohonnya. Ini saya biarkan sampai nanti musim hujan, baru akan kembali menanam," sebutnya.

Dia mengaku rata-rata satu hektar tanaman cabai di Kecamatan Dawarblandong mampu menghasilkan 3 sampai 4 kwintal cabai, dan menghasilkan uang kisaran uang Rp 5 juta.

" Kalau sekarang ya, bisa dilihat sendiri tak laku dijual. Mangkanya para petani dengan sengaja membiarkan cabai di pohonnya, soalnya sudah tak laku," sebutnya.

Selain mengalami kerugian hingga jutaan rupiah, ditambah biaya produksi yang cukup mahal, kondisi ini membuat para petani beralih menanam tanama lain.

" Kerugian jelas, satu hektar tanaman cabai diperkirakan 4 sampai 5 juta. Tapi mau gimana lagi kita tak bisa berbuat apa-apa. Sebab tanaman cabai sangat membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup, meski hari ini harga dipasaran tinggi," jelasnya.

Sugeng juga mengatakan, biasanya para petani di Kecamatan Dawarblandong untuk menjual hasil panen, para tengkulak datang sendiri. " Pada bulan 4 kalau gak salah perkilo itu harganya 5000 sampai 6000 perkilo. Kalau sekarang ya, dipakai sendiri, itu pun sisa-sisa," tegasnya. (fad/and/wwn)