best website stats Kesulitan Air Bersih, Warga di Mojokerto Ini Terpaksa Pakai Air Sungai Untuk Mandi dan Mencuci, Begini Ceritanya - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Kesulitan Air Bersih, Warga di Mojokerto Ini Terpaksa Pakai Air Sungai Untuk Mandi dan Mencuci, Begini Ceritanya

majamojokerto.com

Krisis air bersih menimpa 2 Kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Tiap tahun mereka harus menggantungkan air bersih kepada pemerintah. Tak jarang, ratusan jiwa harus rela mandi dan mencuci pakaian di sungai yang terbilang kumuh.

Seperti yang terjadi di Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. Selama satu bulan terakhir mereka kesulitan air bersih, sehingga terpaksa menggunakan air sungai yang keruh untuk mandi dan mencuci. Para korban kekeringan ini mengeluhkan tak kunjung tersalurnya air dari PDAM.

Informasi yang dihimpun Fuad Amanulloh, Reporter Maja FM, meski telah mendapatkan droping air bersih dari Pemkab Mojokerto yang dilewatkan tandon berukuran 3.300 liter di teras salah satu rumah penduduk, namun kebutuhan air itu dirasa tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Seperti yang terpantau di Dusun Tempuran, Desa Simongagrok. Terik matahari tak pernah memperkecil semangat para ibu-ibu dalam mengantri untuk mendapatkan air bersih. Dengan sekuat tenaga mereka mengangkat air bersih untuk memenuhi kebutuhan air di rumah mereka.

Sarti (60), warga RT 2 Dusun Tempuran, Kecamatan Dawarblandong mengaku, sudah satu bulan pihaknya dan tetangga kesulitan mendapatkan air bersih. Itu dialami sejak sambungan sumur Wslic dan Pamsimas tak lagi mengeluarkan air akibat kekeringan yang terjadi dua bulan lalu.

" Saluran air bersih hanya cukup untuk masak, minum dan untuk memandikan anak. Namun untuk mandi dan mencuci pakaian, banyak warga termasuk dirinya memilih pergi ke Sungai yang berada di belakang rumah," sebutnya, Selasa (16/7/2019).

Selama mengalami kekeringan, selain ke sungai, terkadang warga meminta kepada tetangga sekitar yang memiliki saluran sumur bor. " Tapi sekarang yang sudah tidak keluar, ya terpaksa kebutuhan air kita ambil di sungai. Kalau orang sini sebutnya sungai Pereng," imbuhnya.

Sungai Pereng sendiri merupakan sungai yang mengalir ke Kali Lamong, jarak dari rumah warga kisaran 50 meter. Selain itu, kondisi sungai juga terbilang memprihatinkan. Meski terbilang jernih, namun sungai yang dimaksud oleh warga untuk mandi dan mencuci pakaian lokasinya berada dibawah pohon bambu.

Air sungai ini berwarna keruh kecokelatan. Kedalaman air yang membentuk kubangan di dasar sungai itu tak sampai 50 cm. Banyak plastik bekas bungkus sabun deterjen berceceran di sungai. Bahkan terlihat banyak bekas popok bayi yang dibuang di aliran sungai.

Hal yang sama juga diungkapkan Siti (45) warga lain. Krisis air bersih di Dusun Tempuran tidak terjadi pada tahun ini saja, melainkan sejak tahun yang lalu warga sudah kesulitan air bersih. Sehingga upaya warga untuk mendapatkan air dengan membuat sumur bor tak pernah membuahkan hasil. Padahal pengeboran dilakukan warga sampai kedalaman 30 meter.

"Saya sudah pernah ngebor tiga kali di titik berbeda tak keluar air. Disini memang susah mencari sumber air," ungkapnya.

Sebagai solusinya, Siti dan warga Tempuran lainnya berharap ada pasokan air bersih dari PDAM Kabupaten Mojokerto. Warga tidak keberatan jika harus berlangganan ke PDAM. Asalkan air bersih mudah didapatkan setiap saat.

Terlebih lagi hampir di setiap rumah warga Tempuran telah terpasang saluran pipa yang selama ini untuk mengalirkan air bersih dari Wslic dan Pamsimas. Sehingga PDAM tidak perlu lagi memasang instalasi pipa ke rumah-rumah penduduk.

"Selama ini belum ada tawaran dari PDAM, juga belum pernah ada rapat di desa membahas berlangganan PDAM. Padahal kami sejak lama ingin berlangganan PDAM," tegasnya.

Sementara itu, Sukamto, Kepala Dusun Tempuran menuturkan, hingga saat ini kurang lebih terdapat 120 kepala keluarga (KK) atau 270 jiwa yang menderita akibat krisis air bersih di wilayahnya. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga mengandalkan bantuan dari Pemkab Mojokerto. Sebanyak 7 ribu liter air setiap harinya harus dibagi dengan warga Dusun Ngagrok, Desa Simongagrok yang juga dilanda kekeringan.

"Selama ini warga ambil air di Wslic, tapi saat ini sumber airnya habis," tegasnya sembari mengarahkan tangki pengangkut air bersih kerumah warga.

Keluhan warga Simongagrok bertolak belakang dengan pernyataan Muhammad Zaini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto. Dia menyebut warga mengalami krisis air bersih lantaran menolak berlangganan PDAM.

"Warga selama ini dapat air dari Wslic dan Pamsimas gratis. Mereka tidak mau berlangganan PDAM meskipun tarifnya sudah murah," tandas Zaini.

Selain di Kecamatan Dawarblandong, krisis air bersih juga terjadi di 3 desa di kecamatan Ngoro, Mojokerto. Yakni 520 jiwa di Desa Kunjorowesi, 750 jiwa di Desa Manduro Manggung Gajah, serta 750 jiwa di Desa Kutogirang. (fad/and/wwn)