best website stats Di Radio Maja Fm, TB-HIV Care Aisiyah Kota Mojokerto Ajak Warga Stop TBC - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Di Radio Maja Fm, TB-HIV Care Aisiyah Kota Mojokerto Ajak Warga Stop TBC

majamojokerto.com

TBC-HIV Care Aisyiyah Kota Mojokerto saat Talkshow di Radio Maja Fm

Penyebaran penderita TBC di Kota Mojokerto cukup tinggi, bahkan angka TBC anak di kota Onde-Onde ini tertinggi se Jawa Timur. Hal inilah yang membuat TB-HIV Care Aisyiyah gencar melakukan kampanye stop TBC serta mendorong pemkot segera menerbitkan regulasi penangulangan TBC.

Sudarmi, ketua PD Aisyiyah Kota Mojokerto saat talkshow di Radio Maja Fm, Selasa (25/06) mengatakan, TB-HIV care Aisyiyah merupakan bagian dari program organisasi dalam membantu penanganan masalah sosial termasuk kesehatan.

"Untuk kegiatan eleminasi TBC ini kita disupport oleh Global Fund (GF) hingga tahun 2020. Kami berharap, program ini akan berlanjut melalui program dari pemerintah daerah," ungkapnya.

Sementara Tatik, Kepala SSR TB-HIV Aisiyah mengatakan, penyakit TBC ini sangat mudah menular, karena penularannya melalui udara. Sehingga penanggulanganya harus dilakukan secara bersama-sama.

"Tujuan program ini adalah mengeleminasi penderita TBC, jadi yang ditemukan positif, harus mau berobat sampai sembuh agar tidak menularkan ke orang lain," ungkapnya.

Tatik juga berharap, melalui program sosialisasi di Radio Maja Fm ini masyarakat paham gejala TBC dan cara pencegahaa dan penangulangannya.

"Gejala utamanya adalah batuk-batuk selama dua minggu dan disertai dahak. Kalau gejala lainnya banyak, seperti keluar keringat dingin, berat badan berkurang. Kalau sudah seperti itu harus segera konsultasi ke kader kami atau ke Puskesmas," ungkapnya.

Untuk mempercepat penanggulangan TBC di Kota Mojokerto, SSR TBC-HIV care Aisyiyah mendorong Dinas Kesehatan segera membuat regulasi dalam bentuk peraturan walikota (perwali) yang secara spesifik memberi payung hukum pada penanggulangan TBC.

"Kita akan selalu bermitra dengan Dinkes, dan mendorong adanya regulasi terkait penanganan TBC. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dan harus dituangkan dalam perwali, begitu juga sanksi terhadap penderita yang tidak mau berobat atau putus obat. Karena merekalah yang akan menularkan ke orang lain," tegasnya.

Seperti diketahui, pasien yang positif TBC harus menjalani terapi dengan munum obat selama 6 bulan tanpa putus. Kalau tidak berhasil, pasien akan menjadi kebal obat (MDR) dan harus menjalani terapi selama 2 tahun tanpa putus.

"Pasien ini rawan menularkan ke orang lain, apalagi kalau pasien MDR akan menularkan ke orang lain dan langsung menjadi MDR. Makanya, kuta terus berjuang agar sesuai target pemerintah tajun 2035 indonesia bebas TBC. Dan Kota Mojokerto harus lebih cepat mencapainya," pungkasnya.(zac/zac)