best website stats Warga Mojokerto Usaha Wayang Dari Kulit Sapi Selama 30 Tahun - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Warga Mojokerto Usaha Wayang Dari Kulit Sapi Selama 30 Tahun

majamojokerto.com

Merintis usaha bukan hal yang mudah, bahkan pasang surut usaha bakal terjadi. Namun penghasilan ataupun sebuah karya bisa di dapatkan, setelah berani menekuni dalam bidang apa yang di inginkan. Begitulah sedikit istilah yang bisa di gambarkan bagi Hartono (52) asal Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Informasi yang dihimpun Fuad Amanulloh - Reporter Maja FM, meski usianya yang tak lagi muda, namun Hartono masih terlihat kuat memahat sebuah pola di atas kulit sapi yang telah dikeringkan. Tangannya sangat lihai ketika memahat, sorotan matanya membelalak seakan tak ingin pahatannya keluar dari garis pola yang dibuat.

Selang beberapa jam, pola-pola itu telah berbentuk sebuah karakter pewayangan. "Saya sedang membuat wayang kulit karakter Ramayana," ucapnya dengan asyik memahat garis garis di karakter pewayangan yang tak lagi banyak di gemari kaum milenial.

Hartono mengaku, telah menggeluti pekerjaan sebagai pengrajin wayang sejak tahun 1988. "Saya sudah membuat wayang sejak kecil, kalau dihitung kira-kira sudah 30 tahun," ujarnya Sabtu (08/02/2019).

Awal mula pihaknya membuat karakter pewayangan nampak sudah dimilikinya sejak masih tinggal di Solo atau tempat tinggalnya dulu." Dan alhamdulilah sampai sekarang, berawal belajar dari melihat dan mencoba sampai saat ini saya bisa menghasilkan uang dari hasil jari payah saya selama menuruni pembuatan pewayangan dari kulit " imbuhnya.

Hartono juga mengaku, sudah menggeluti pembuatan wayang kulit ketika duduk dibangku sekolah dasar. Wayang hasil karya Hartono bentuknya belum sempurna pada saat awal belajar. Tapi tidak patah semangat dan terus berusaha.

"Saat SMP saya sudah bisa membuat wayang sendiri tanpa bimbingan tetangga lagi. Bahkan, wayang buatan saya laku terjual," ucapnya.

Dari situ, kemudian dirinya semakin bersemangat membuat wayang. Sekitar tahun 2003 dia memilih untuk merantau untuk mengadu nasib namun tetap pada dasar pembuatan karya pewayangan. "Saya merantau ke Jakarta. Di sana saya m membuka usaha pembuatan wayang. Setelah di Jakarta saya pindah ke Batam, Malang, Sidoarjo, dan terakhir dirinya berlabu Mojokerto," tuturnya.

Pasang surut penjualan wayang sudah dirasakannya. Bahkan berbagai upaya dilakukan agar usahanya tetap bertahan. Saat ini Hartono tinggal memetik buah dari hasil kerja kerasnya. Bahkan bisa mencukupi kebutuhan anak-anak dan istrinya, menyekolahkan hingga tamat, membeli sepeda motor hingga sebuah rumah.

Saat ini setiap bulan pihaknya mampu mendapatkan keuntungan 5 - 6 juta dari 6 pesanan pewayangan yang di buat.

Kata Hartono, wayang kulit hasil karyanya saat ini sudah hampir menyeluruh se-Jawa Timur, " untuk pemesan rata-rata di pesan oleh dalang, dan harganya sendiri juga cukup bervariasi, dari Rp 300 ribu sampai Rp 2,5 juta, semakin mahal harga wayang semakin besar pula ukurannya.

Karakter wayang yang paling banyak diminati pelanggannya adalah rata-rata tokoh Gatot Kaca, Kresna, Arjuna, Pandawa Lima. 

"Kalau wayang pesanan dalang saya berbahan dari kulit kerbau atau sapi karena kualitasnya lebih baik. Untuk wayang hiasan terbuat dari bahan kulit kambing. Saya mendapatkan bahan kulit itu dari pengepul yang berada di Gedeg, Kabupaten Mojokerto," ungkapnya.

Untuk pembuatannya sendiri. satu karakter wayang membutuhkan waktu cukup lama sekitar 5 sampai 6 hari tergantung dengan ukuran. Pasalnya, Hartono membuat wayang dengan cara manual yakni menggunakan alat petel dan alat kerok kulit. Selain itu proses perendaman kulit dengan air tawar juga memakan waktu 12 jam lalu di jemur. (fad/and)

majamojokerto.com