best website stats Kisah Pilu Pengguna Jampersal di RS Milik Pemerintah - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Kisah Pilu Pengguna Jampersal di RS Milik Pemerintah

majamojokerto.com
Guna menurunkan angka kematian ibu dan bayinya saat melahirkan, Pemerintah pusat meluncurkan Program Jampersal, jaminan persalinan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia baik yang kaya maupun tidak mampu di beberapa Rumah sakit milik pemerintah atau swasta yang ditunjuk atapun beberapa bidan setempat. Namun Program Jampersal ini dalam penerapan dilapangan tidak semudah yang pemerintah pusat canangkan, karena masyakat kerap kali berbenturan dengan prosedur yang rumit serta kurangnya kepedulian pihak-pihak penunjang, sehingga pengguna jampersal khususnya ibu-ibu yang tengah hamil justru merasa di sengsarakan dengan program ini, setidaknya itu yang diakui Ibu Sulikha Warga Dlanggu Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto. Ibu Sulikha warga Dlanggu, Kamis (25/04/2013) mengatakan, kalau adiknya sedang hamil dan akan melahirkan menggunakan program jampersal, karena setiap bulan sang adik juga selalu memeriksakan kandungannya ke bidan khusus jampersal. Namun saat hendak melahirkan sang bidan tidak ada, diapun membawa adiknya ke Puskemas setempat, karena kondisinya adiknya termasuk resiko tinggi yakni tingginya hanya 145 cm serta kakinya membengkak akhirnya oleh pihak pihak puskesmas merujuk sang adik ke RSUD Dr Soekandar Mojosari Mojokerto. Namun disinilah timbul permasalahan yang dinilai Ibu Sulikha tidak manusiawi. “ Adik saya datang tanggal 9 April sekitar jam 10 pagi, langsung di bawa ke kamar khusus pasien Jampersal, saat diperiksa di dalam kamar, tidak diijinkan satupun keluarga mendampingi, sampai akhirnya sang adik disuruh keluar dari kamar, dan disuruh menunggu di luar sambil jalan-jalan, dari jam 10 pagi hingga jam 23.00” alasannya kamarnya penuh dan adik saya baru pembukaan 1” demikian dikatakan Bu Sulaikha kepada Maja Fm pagi tadi (25/04). Bu Sulaikha yang mendampingi sang adik, sempat bertanya kepada perawat mengapa adikknya berada di luarr uangan, ternyata sang perawat menjawab dengan suara kurang bersahabat, karena tidak tahan sakit akhirnya sang adik memaksa keluar dari RS. Apalagi di dalam kamar bersalin jampersal saat sang sempat melihat ada pasien jampersal yang melahirkan dibiarkan sendirian tanpa ada keluarga dengan darah di mana-mana. Sang adikpun merasa ngeri, apalagi ada keluarga peserta jampersal lainnya yang juga bercerita tentang ketidak nyamanan pelayanan yang diberikan. Pihak Rumah sakit akhirnya Jam 24.00 mengijinkan mereka pulang, tapi dengan catatan menanda tangani pernyataan keluar Rumah sakit secara paksa dan harus membayar Rp 300 rb dengan alasan untuk melengkapi berkas yang belum ada. Uang bisa diambil bila sudah menyertakan 3 berkas jampersal yang kurang hingga atas waktu besok harinya jam 9 pagi. “ Bagi saya tidak masalah uang saya hilang asal adik saya selamat, akhirnya adik saya dibawa ke RS Swasta dan langsung malam itu juga operasi cesar karena memang sudah tidak memungkin untuk melahirkan normal, Alhamdulilah lahir selamat, baik ibu maupun bayinya.” Itu dikatakan Bu Sulikha lagi.Bagi Bu Sulaikha dan keluarganya semua pengalaman buruk tentang Jampersal sudah berlalu, tapi tanggal 23 April Bu Sulaikha di panggil Bidan Jampersal tempat adiknya memeriksakan diri saat hamil. Untuk mengisi penyataan tidak mau melakukan Program Jampersal dengan alasan mampu melahirkan dengan biaya sendiri. Tentu saja bu Sulaikha dengan keluarganya merasa tersakiti untuk kedua kalinya dan bertanya – tanya apa maksud semuanya, Bu Sulaikha merasa sangat kecewa dan berharap pemerintah mengkaji ulang semua Program Gratis yang ada, supaya tidak justru membuat masyakat kecil semakin sengsara karena ada pihak-pihak lain ang mempersulit. (Lia)