best website stats Bahaya Buah Impor Yang Perlu Diwaspadai. - Suara Mojokerto | MAJA FM 100.7

Bahaya Buah Impor Yang Perlu Diwaspadai.

majamojokerto.com
Buah impor memang banyak digemari, karena memiliki rasa dan penampilannya yang lebih menarik. Tak heran kalau akhirnya kehadiran buah impor jadi ancaman bagi keberadaan buah lokal. Coba bandingkan buah jeruk impor yang berwarna kuning cerah menggoda dan rasa segar, dengan jeruk lokal yang kulitnya berwarna hijau, agak kusam dan rasa biasa. Maka tak heran kalau banyak orang memilih buah impor, karena dari segi harga pun tak jauh beda. Namun dari segarnya buah impor, ada hal yang perlu diwaspadai. Mungkin anda juga pernah bertanya-tanya, bagaimana buah-buahan impor ini mempertahankan kesegarannya, padahal ia harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke Indonesia. Tentu saja, produsen membubuhkan zat-zat tertentu agar buah-buah segar ini bisa awet berbulan-bulan bahkan tahunan. Di salah satu terminal buah di Rotterdam Belanda yang luasnya hampir sama dengan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, terdapat gudang pendingin khusus untuk menyimpan buah. Usia penyimpanannya ada yang mencapai dua tahun, dan yang paling muda enam bulan. Agar buah tahan di suhu dingin, tidak kering dan tidak keriput, maka kulit buah dilapisi lilin. Dalam lilin itu juga ditambahkan fungisida agar buah tidak berjamur. Dari berbagai penelitian menunjukkan kalau fungisida yang biasa ditambahkan adalah jenis Vinclozolin yang bersifat anti-androgenik yang sama sifatnya seperti DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Prof. Ahmad Sulaeman Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, Anti-androgenik ini dapat menimbulkan efek mandul pada serangga. Sedangkan kalau dikonsumsi oleh manusia, meski dalam kadar rendah, tenyata mampu menyebabkan demaskulinisasi, yang mengganggu perkembangan organ reproduksi. Karena itu, tidak mengherankan kalau sekarang banyak ditemukan kasus kelamin ganda atau transgender. Paparan pestisida dari buah juga bisa mengancam anak-anak. Ahmad menjelaskan, satu penelitian di negara Meksiko yang membandingkan anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik (tanpa pestisida) dan non-organik (disemprot pestisida). Hasilnya, kata dia, anak yang selalu terpapar pestisida tidak mampu menggambar, sekalipun gambar garis yang sederhana. Sebaliknya, anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik disebutkan mampu menggambar dengan bagus. Kemudian, beberapa risiko penyakit juga dimungkinkan berkembang pada anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, seperti penyakit leukemia dan termasuk autisme. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat kembali beralih ke buah-buahan lokal seperti manggis, nangka dan masih banyak lagi yang lainnya.(fan)